Pengembangan Wisata Syariah Indonesia Berkaca dari Korea

LSU Pariwisata | Sertifikasi Usaha Pariwisata – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan menggembangkan salah satu produk baru pariwisata, yaitu pariwisata syariah. Pendorongnya adalah semakin banyak wisatawan Muslim ke Indonesia, juga lantaran banyak negara telah mengembangkannya. Pengembangan pariwisata syariah akan diterapkan pada empat jenis komponen usaha pariwisata, yaitu perhotelan, restoran, biro atau jasa perjalanan wisata, dan spa. Selain keempat jenis usaha pariwisata tersebut, sarana penunjang pariwisata lainnya juga akan diikutsertakan.

Pengembangan pariwisata syariah Indonesia ini mengacu pada estimasi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara Muslim ke Indonesia yang tidak hanya berasal dari Timur Tengah, namun juga Eropa. Hingga tahun ini, Ditjen Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf mencatat kunjungan wisatawan Muslim ke Indonesia mencapai 1.270.437 orang per tahun.

Mayoritas wisatawan berasal dari Arab Saudi, Bahrain, Malaysia, Singapura dan Perancis. Selain itu, Indonesia juga berkaca pada negara-negara di Asia, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Korea, Jepang, Taiwan, bahkan China, yang sudah terlebih dahulu mengembangkan pariwisata syariah, seperti dilansir dari IndonesiaTravel, Minggu (18/8/2013).

Dalam pengembangan pariwisata syariah, Kemenparekraf menggandeng Dewan Syariah Nasional (DSN), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Lembaga Sertifikasi Usaha (LSU). Mereka akan bekerjasama untuk mengembangkan potensi dan standar pariwisata yang menjunjung tinggi budaya dan nilai-nilai Islami. Standar pariwisata syariah ini nantinya akan dituangkan dalam Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tujuan pariwisata syariah adalah meningkatkan kunjungan wisatawan dalam maupun luar negeri untuk menggunjungi berbagai destinasi maupun atraksi pariwisata yang memiliki nilai-nilai Islami, yang tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa daerah tersebut di antaranya Aceh, Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Makassar, Yogyakarta, dan Lombok. Tujuan lainnya adalah untuk mendorong tumbuh kembang bisnis syariah dalam industri pariwisata.

Pariwisata syariah rencananya akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di acara Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 pada 30 Oktober-2 November 2013 di Jakarta Internasional Expo, Jakarta. Dalam acara tersebut, berbagai usaha pariwisata yang memenuhi standar syariah akan dipamerkan pada pengunjung.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan basis pemeluk Islam terbesar di dunia, tidak heran memiliki begitu banyak destinasi dan atraksi wisata dengan sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islami, contohnya masjid, pesantren, ataupun makam bersejarah. Karena alasan inilah, Indonesia dipandang mampu mengembangkan pariwisata syariah. Pariwisata syariah juga sebenarnya tidak hanya mencakup destinasi dan atraksi pariwisata dengan nilai-nilai Islami, lebih dari itu, pariwisata syariah memiliki ruang lingkup yang sangat luas.

Leave a Reply