Uncategorized

Bangun Hotel Murah tapi Tidak Murahan

LSU Pariwisata | LSU Hotel | Sertifikasi Usaha Hotel -Persaingan bisnis hotel dalam sepuluh tahun ke depan diprediksi kian sengit. Munculnya hotel-hotel baru yang dikelola sendiri ataupun operator luar negeri memberikan pilihan yang kian beragam Kondisi ini dimanfaatkan PT Intiwhiz Internasional– anak usaha PT Intiland Development Tbk–dengan mengembangkan hotel di kota-kota yang denyut perekonomiannya berkembang pesat. Mengandalkan Grandwhiz dan Whiz Hotel, Intiwhitz International yakin bisa memberikan kontribusi positif ke induk usahanya. Berikut petikan wawancara dengan Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Intiwhiz International Moedjianto Soesilo Tjahjono.

Bisa dijelaskan perkembangan terbaru bisnis perhotelan Intiwhiz seperti apa?

Boleh dibilang perusahaan ini masih muda karena baru dimulai sejak tiga tahun yang lalu. Kami, anak usaha dari PT Intiland Development Tbk, sejak pertama kali berdiri sudah jelas sekali tujuan dan konsepnya. Pertama, kami masuk ke industri perhotelan dengan orientasi meraih keuntungan. Kedua, kami memiliki tujuan jangka panjang yang jelas. Dalam lima tahun ke depan kami targetkan membangun 60 hotel. Hingga sekarang saja sudah ada 33 hotel yang sudah dibangun. Ini menandakan sudah ada arah yang jelas. Selain itu, kami memiliki operator dari anak bangsa sendiri. Untuk kami, karena mau menguntungkan, maka masuk ke bisnis hotel budget.

Kenapa memilih segmen itu?

Dari hasil analisa kami, hotel sekarang banyak pilihannya mulai dari bintang satu hingga bintang lima. Karena background-nya di properti, jadi kalau mau membangun harus dihitung semua. Sehingga kalau mau investasi, tanah juga dihitung luasnya dan dalam waktu delapan tahun harus balik modal. Itu yang jadi acuan dan harus visible, modal harus balik semua. Kalau kami bermain di hotel bintang lima, maka kebutuhan tanah akan besar sekali bisa lebih dari 5.000 meter persegi. Kalau yang seperti itu tidak masuk dalam studi kelayakannya. Karena berarti harus ada ballroom. Parkiran juga harus ada, tidak bisa sembarangan, sehingga modalnya pasti besar dan susah kembalinya. Jangan membangun hotel karena gengsi lalu jadi asal-asalan. Banyak pebisnis hotel, tidak menghitung tanah sebagai investasi, hanya bangunan.

Apa yang membedakan hotel yang dikelola Intiwhiz dengan yang lain?

Pertama, kita fokus pada apa yang dibutuhkan tamu. Kalau itu tidak dibutuhkan tamu, maka dalam konsep hotel ini tidak akan menyediakan. Contohnya tempat fitnes, apa ada yang menggunakan? Kemudian kolam renang, banyak tamu yang tidak sempat pakai. Fasilitas seperti itu yang kami hilangkan karena tidak signifikan. Atau seperti telepon di kamar, sekarang semua sudah pakai handphone. Dan itu tanpa mengurangi kenyamanan tamu, karena terbukti tidak pernah digunakan. Restoran pun demikian, sarapan memang kita siapkan karena dibutuhkan, tapi kalau sudah siang pasti tamu sudah pergi. Sedangkan malam biasanya juga makan dengan orang lain. Pengurangan ini yang membuat investasi kita menjadi rendah sehingga cepat kembalinya. Tapi soal lokasi, kami harus di lokasi premium. Kemudian soal kenyamanan tempat tidur, kita punya spesial desain supaya bangun pagi segar kembali.

Bagaimana persaingannya dengan konsep yang ditawarkan?

Dalam mencari lokasi kami tidak bisa sembarangan. Biasanya orang membangun hotel karena punya tanah yang menganggur. Kalau saya tentukan dulu mau bikin hotel di mana, baru setelah itu saya harus dapatkan tanahnya. Kalau tidak begitu, akan susah dalam persaingan ke depan yang semakin berat. Saya senang kalau sekarang banyak yang bikin hotel, karena akan mendidik masyarakat untuk mengedukasi masyarakat dalam bisnis ini. Saat ini kalau kita Eropa atau Jepang, model kamarnya hanya seluas 5 meter persegi dan pasti mahal. Saya meyakini bisnis hotel kita akan menuju ke arah sana, karena lahan akan semakin sempit dan mahal. Selain lokasi, kami juga menimbang lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu Kami mempunyai dua produk hotel tergantung kebutuhan. Misalnya kalau lahan di sana sudah matang, seperti banyak penjual makanan atau lahan komersial lainnya, maka cukup dengan Whiz Hotel. Tapi kalau misalnya di Sudirman yang kawasan premium namun tidak ada tempat penjual makanan, maka kita bangun Grand Whiz yang menyediakan fasilitas pelengkap lainnya.

Berapa komposisi yang Whiz dan Grand Whiz saat ini?

Mungkin sekitar 30% itu Grandwhiz, dan 70%nya Whiz Hotel.

Untuk target 60 hotel, itu bakal didominasi tipe apa?

Nantinya bukan tipe seperti apa yang harus dibangun, tapi mengikuti lokasi nanti yang didapatkan. Kalau memang dibutuhkan Grand Whiz, tetapi kalau bisa Whiz kenapa tidak.

Penyebarannya saat ini di mana saja?

Yang sudah ada itu Padang, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jakarta, Bogor, Malang, Bali, Balikpapan. Target kita akan penetrasi secara nasional.

Pertimbangannya apa jika ingin bangun hotel di sebuah daerah, misalnya berapa banyak yang harus dibangun?

Setiap kota itu berbeda potensinya. Setiap saya datang ke satu kota saya akan baca apakah kota ini mempunyai potensi. Misalnya apakah kota ini kota bisnis, yang berarti banyak pengunjung. Kemudian tergantung rate, kadang ada kota yang potensial tapi ratenya murah sekali, kadang tidak bisa masuk. Hotel ternama bintang empat cuma Rp400.000 lebih, bintang tiga Rp300.000- an, itu hotel ternama dengan operator internasional, kalau kita mau masuk lagi susah tidak akan profitable. Banyak sekali orang yang berorientasi di bisnis ini.

Persaingan di segmen bisnis ini bagaimana?

Sekarang masih enteng. Berikutnya pasti akan banyak yang masuk dan ramai

Pemain lain di segmen ini?

Kalau untuk operator berjaringan ada 6–7 pemain. Tetapi kalau pribadi lebih banyak. Tarifnya di kisaran Rp300.000–450.000. Level menengah mengincar karyawan kunjungan tugas atau perjalanan bisnis.

Lalu apa strategi untuk memenangkan persaingan?

Saya tahu ke depan bisnis ini pasti ramai, dalam 10 tahun ke depan. Sehingga kita dari awal fokus di lokasi. Cari tanah sekarang itu sangat sulit. Tapi beruntung saya punya pengalaman di Era (perusahaan agen properti), sehingga ada jaringan yang kuat sekali jauh lebih mudah untuk mencari lahan.

Selain lokasi?

Nilai investasi, tarif (rate) dan biaya harus sesuai dengan studi awal. Sering orang yang belum pengalaman, bingung main rate-nya. Karena ingin penuh dia kasih murah padahal akan ada biaya operasional untuk renovasi dalam 10 tahun. Kami murah tetapi tidak murahan, sehingga tidak menurunkan harga. Banyak yang murah tetapi sepi karena tidak terawat. Bisnis hotel harus memperhitungkan hingga 10 tahun ke depan. Segalanya pasti ada masa persaingan dan ada masa memetik hasilnya.

Bagaimana Anda mengelola sumber daya manusia (SDM), khusus untuk mereka yang bertatap muka dengan pelanggan?

Kita sudah punya SOP (standard operational procedure). Begitu kita rekrut langsung diberikan pelatihannya. Pelayanan kita harus bagus dengan standar yang ada. Dengan penampilan yang diperhatikan, tidak bisa asal asalan soal ini.

Nilai apa yang didorong supaya tumbuh semangat kerja?

Kondisinya kita punya kamar di bawah 150 kamar, dan fasilitas tidak banyak. Sehingga karyawan tidak banyak. Hanya ada karyawan 17 orang dengan bantuan tenaga outsourcing. Hal ini membuat mereka seperti keluarga dan merasa memiliki. Jadi tidak sekadar datang kerja kemudian langsung pulang. ●hafid fuad/ hatim varabi

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *