Inilah Kota-kota Potensial untuk Bisnis Perhotelan…

Sertifikasi Usaha Pariwisata | LSU Pariwisata-Pasar sektor perhotelan di Indonesia, masih sangat menarik. Terutama di kota-kota dengan aktifitas bisnis, perdagangan dan atraksi pariwisata yang pesat. Hal itu bisa terlihat dari beberapa indikator, selain bertumbuhnya tingkat hunian dan tarif kamar, juga bertambahnya jumlah hotel baik yang tengah dikembangkan maupun sudah beroperasi.Beberapa jaringan lokal dan internasional secara agresif mengembangkan bisnisnya di seluruh Indonesia. Tercatat, Swiss-belhotel International, Accor Group, Santika Indonesia Hotels & Resorts, Sahid Group, sekadar menyebut contoh, bakal menambah portofolio kelolaannya menjadi ratusan hotel.

Head of Research Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus, mengatakan aksi ekspansif para pemain perhotelan tersebut termotivasi oleh potensi pertumbuhan ekonomi, perjalanan bisnis dan wisata yang meningkat serta maraknya aktifitas meeting, incentive, convention & exhebition (MICE) di beberapa kota.

“Selain itu, terdapat pergeseran perilaku masyarakat urban di kota-kota besar Indonesia. Jika mereka kembali ke kota kelahirannya (pulang kampung) biasanya akan memilih bermalam di hotel yang dikelola jaringan ternama. Tidak lagi di rumah orang tua atau hotel biasa. Hal ini ikut berkontribusi terhadap meningkatnya tingkat hunian,” jelas Anton kepada Kompas.com, di Jakarta, Sabtu (13/7/2013).

Meski Jakarta dan Bali masih mendominasi komposisi ekspansi jaringan hotel tersebut, lanjut Anton, terdapat beberapa kota yang tak kalah besar potensinya. Sebut saja Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta, Semarang, Palembang, dan Balikpapan. Di kota-kota tersebut, peluang untuk dikembangkan hotel berklasifikasi ekonomi, bintang 3 dan 4 sangat besar.

Kota-kota ini memiliki rerata pertumbuhan tarif kamar sebesar 5 hingga 7 persen per tahun dan lamanya tamu menginap (length of stay) sekitar 2 persen. Selain itu, tingkat hunian (occupancy rate) juga tetap bertahan pada angka di atas 70 persen untuk hotel ekonomi, dan di atas 60 persen untuk middle scale.

Tingkat hunian Amaris, contohnya, mencapai rerata 90 persen. Sementara Ibis budget mencapai 80 persen. Untuk kelas menengah Santika dan Santika Premier mencatat occupancy rate 75 persen.

“Kegiatan perdagangan, bisnis dan eksebisi masih merupakan magnitud yang kuat, selain pertumbuhan ekonomi secara umum yang cenderung stabil,” imbuh Anton.

Hal senada diungkapkan Corporate Marketing Communication Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, Vivi Herlambang. Menurutnya, kegiatan bisnis yang dipicu oleh belanja pemerintah daerah setempat (government spending) juga ikut mengerek pertumbuhan bisnis perhotelan di kota-kota tersebut. Itulah mengapa pihaknya akan mengembangkan sekaligus mengelola sejumlah hotel baru hingga 2015 mendatang.

“Jika tingkat hunian kota (town occupancy) masih berada pada level di atas 60 persen, maka kota tersebut layak untuk dimasuki bisnis perhotelan,” imbuh Vivi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *