Artikel Usaha Pariwisata

Terdapat 38 Unsur yang Diukur Dalam Standar Usaha Perjalanan Wisata

travel-agent-bookStandar USAHA PAriwisata | LSU Pariwisata-AFTA 2015 yang tinggal hitungan bulan memaksa bisnis pariwisata di Indonesia untuk mau tidak mau harus segera mempersiapkan diri. Disektor perhotelan, sertifikasi kompetensi dan sertifikasi usaha sudah mulai bergulir dengan hadirnya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), standar hotel dan standar hotel syariah yang masing-masing digarap oleh LSP Pariwisata dan LSU Pariwisata. Saat ini giliran usaha perjalanan wisata dengan hadirnya Standar Usaha Pariwisata melalui Permen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif No 4 tahun 2014 telah muncul standar usaha perjalanan wisata. Menurut Hairullah Gazali, Direktur LSU Pariwisata, terdapat 38 Unsur dalam Permen tersebut, yang menjadi indikator penilaian untuk standarisasi usaha perjalanan wisata. Dari unsur tersebut meliputi 20 Unsur yang berasal dari produk, 7 Unsur Pelayanan dan 11 Unsur pengelolaan. Ditambahkan oleh Hairullah, yang menarik saat ini SDM usaha perjalanan wisata mulai disentuh dengan dimasukkannya unsur SDM yang bersertifikat kompetensi dan kewajiban pengusaha untuk melakukan pengembangan SDM.

Senada dengan yang disampaikan oleh Hairullah, Didik Widyatmoko yang juga Assesor kompetensi LSP Pariwisata dan yang keseharian berprofesi sebagai pramuwisata dan pernah bergabung di Biro Perjalanan Wisata. “Dari sisi positifnya dengan hadirnya standar usaha ini, user atau konsumen dari usaha perjalanan wisata tidak akan menjadi korban lagi, dari BPW atau travel agent yang tidak jelas”. Jelas Didik. “Konsumen akan lebih terlindungi dan menjadi yakin bahwa dia, diurus oleh orang  dan perusahaan yang kompeten dan mampu melayaninya dengan baik”, imbuhnya disela-sela kegiatan uji kompetensi yang diselenggarakan oleh LSP Pariwisata Cabang DIY Sabtu ini (21/6). Menurut Didik usaha perjalanan wisata saat ini, terjadi pergeseran ideliasme pengelolaan usaha perjalanan wisata, karena iklim investasi yang tidak sehat dan permainan harga yang sangat ketat. Apabila hal ini tidak disikapi, lagi-lagi konsumen yang akan menjadi korbannya.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *